Oleh: purworejopkm | 30 Juli , 2008

ROAD MAP SISTEM INFORMASI PUSKESMAS.

sistem informasi puskesmas (SIMPUS) yang ideal berbeda – beda pendapatnya tergantung siapa yang memberikan persepsi.

  1. orang dinas kesehatan memandang, idealnya simpus mampu memberikan data yang diminta dinas kesehatan setiap saat dan lengkap. bisa diambil dan di share dari manapun.

  2. orang dari puskesmas memandang, idealnya simpus mampu mengurangi beban kerja. mempermudah pelayanan.

  3. pasien memandang, idealnya simpus mampu mempercepat waktu untuk berobat, sehingga pasien atau keluarga segera beraktifitas kembali.

  4. Pemerintah daerah memandang, idealnya simpus bisa berdampak efisiensi tenaga kerja.

dari berbagai kebutuhan diatas, SIMPUS harus mampu mengakomodasinya. dengan memperhitungkan biaya dan hasil yang didapat apakah seimbang atau tidak.

untuk menentukan seberapa mendesak kebutuhan sistem informasi bagi puskesmas, mungkin ada beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan tolok ukur.

  1. apakah data di puskesmas anda susah di percaya kebenarannya ?

  2. apakah anda membutuhkan data yang valid ?

  3. apakah di puskesmas kesulitan mendapatkan tenaga pengumpul atau perekap data ?

  4. apakah jumlah SDM pe rekap mulai berkurang ?

  5. apakah laporan sering terlambat ?

  6. apakah tenaga perekap tidak sempat mengerjakan karena ada pekerjaan lain yang lebih penting ?

untuk gambaran sumber data di puskesmas adalah sebagai berikut :

  1. data yang terbesar yang diolah dan melibatkan banyak profesi adalah data pasien ber obat (rawat jalan), kemudiaan data posyandu.

  2. untuk data lainya datanya hanya sedikit dan tidak rutin.

sehingga jika ingin memberikan daya ungkit (dampak) yang besar bagi efisiensi puskesmas, maka yang harus di kerjakan pertama adalah menangani sistem rawat jalan.

sistem rawat jalan yang baik bisa mereduksi jumlah petugas dan beban petugas. sebagai gambaran efisiensi yang bisa diperoleh adalah :

  1. petugas loket: jumlah petugas yang seharusnya 2 orang untuk puskesmas dengan pasien yang banyak. 1 bertugas mencatat, 1 orang bertugas mencari kartu rekam medis, bisa menjadi 1 orang saja. yang satu bisa difungsikan ke tempat lain.

  2. kecepatan komputer dalam mencari file pasien yang dalam hitungan mikro detik akan membuat pasien merasa cepat ditangani dan meningkatkan kepuasan pasien.

  3. petugas poli yang seharusnya merekap data penyakit/ kunjungan baik harian, mingguan, bulanan, bisa di handle. sehingga mengurangi beban kerja petugas poli.

  4. petugas surveilans yang harus membuat kewaspadaan dini terhadap penyakit yang berpotensi KLB, tinggal melihat hasil grafis dan membuat kesimpulan untuk di desiminasikan. sehingga lebih cepat bertindak, merupakan keunggulan deteksi dini.

  5. petugas ruang obat tidak perlu merekap manual jumlah pemakaian obat.

  6. jika data identitas pasien sudah banyak di inputkan, maka pendaftaran tidak perlu di loket. cukup di poli masing – masing.

  7. yang penting juga adalah data yang diperoleh akurat, real time.

laporan yang dihasilkan oleh sistem ini :

  1. laporan pembayaran,

  2. laporan ditribuasi pasien berdasar tempat domisili.

  3. laporan penyakit.

  4. laporan kia

  5. laporan imunisasi

  6. laporan kb

  7. laporan tindakan gigi

  8. laporan rujukan.

  9. laporan ISPA

  10. laporan diare

  11. laporan surveilans terpadu penyakit.

  12. laporan peneerimaan obat

  13. laporan pemakaian obat

  14. laporan TB

  15. laporan AFP

  16. Laporan JPS dll sesuai kebutuhan .

dari kebutuhan diatas, software yang dibutuhkan adalah yang berbasis jaringan. yang realistis adalah biaya murah dan kecepatan tinggi (mbps). karena jika mahal, akan membebani pasien juga. untuk jaringan internet kemungkinan belum reliable. karena kecepatanya masih dalam kbps. dan ada biaya tambahan. jadi di sarankan memakai LAN.

road map berikutnya adalah menjangkau Pustu untuk integrasi sistem rawat jalan.

dengan melihat kondisi geografis apakah mungkin membuat jaringan wireless. jika mungkin maka akan memperoleh efisiensiyang baik. karena pustu juga mempunyai rawat jalan juga walaupun kadang pasiennya sedikit. Untuk kemungkinan lainya adalah dengan mengcopy database dari pustu atau posyandu ke puskesmas induk. Dengan periode tertentu. Sehingga. Pustu tidak perlu membuat laporan kegiatan yang sudah dientrykan. Untuk laporan lainya tetap manual.

Untuk pustu diperlukan sebuah keberanian. Karena diperlukan minimal 1 laptop per pustu. Dari pada sebuah PC. Karena bisa mobile. Bisa untuk posyandu, rapat. Jika diperhitungkan sebenarnya merupakan efisiensi. Karena mengurangi kebutuhan karyawan perekap data dan pembuat laporan.

Jika di kalkulasi, 1 pustu dengan karyawan perekap dan pembuat laporan. akan membebani anggaran sekitar 1 juta perbulan. Dalam waktu 7 bulan sudah setara dengan sebuah laptop medium class. Belum beban lainnya.

Laporan yang otomatis adalah :

rawat jalan

kia

kb

obat

posyandu

efek dari kegiatan itu adalah :

keakuratan data bisa lebih baik.

Mengurangi kebutuhan karyawan yang bertugas merekap data. Sehingga karyawan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lainya.

Data pasien yang di puskesmas induk bisa ditambahkan untuk melihat history pasien. Dan bisa satu kartu untuk semua pustu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: